UMKM Menuju Era Digital

Hari gini, kamu pasti akrab dengan yang namanya online shopping. Tinggal browsing – kadang bahkan melalui aplikasi – pilih barangnya, pilih cara pembayaran (bisa cash on delivery!), dan duduk manis deh, menunggu barang tiba di rumah dengan selamat. Praktis; alternatif produknya jauh lebih banyak; serta tidak perlu macet di jalan atau capek mengelilingi pusat perbelanjaan – dan tidak perlu menghadapi sales yang jutek kalau kamu cuma lihat-lihat lalu tidak jadi beli.

Kabar baiknya, dengan sistem online shopping yang mudah seperti ini, kita mungkin jadi lebih sering belanja dan bisa mendukung perekonomian Indonesia.

Kabar (agak) buruknya, keterbatasan pengetahuan tentang produk yang diproduksi oleh Usaha Kecil dan Menengah (UKM) lokal membuat kita ternyata lebih banyak menghabiskan uang untuk produk/marketplace internasional. Hal ini menyebabkan UKM lokal harus berjuang lebih keras – dan di perjalanannya, mungkin menyerah dan gugur.
Fakta yang menarik, bahwa saat ini terdapat sekitar 75ribu UKM yang sudah berbisnis secara online. Tapi, angka ini masih sangat jauh dari jumlah total UKM di Indonesia yang mencapai angka 50juta*. Saya ulangi, 75ribu vs 50JUTA!

Ada berbagai latar belakang yang menyebabkan hal ini terjadi. Mari kita kesampingkan permasalahan koneksi Internet yang belum merata di Indonesia. Untuk hal ini, jelas pemerintah yang harus memperbaikinya, dan kita terpaksa menerima dan menunggu dengan pasrah.

Masalah kedua, hal ini tidak hanya terjadi di daerah yang belum terjangkau Internet kok. Budaya ‘menghabiskan kuota’ untuk aktivitas kurang penting seperti menonton konten YouTube yang tidak bermanfaat adalah salah satunya. Lebih baik kamu subscribe channel YouTube GandengTangan, agar semakin update dengan orang-orang keren yang mencoba mengatasi permasalahan sosial di Indonesia.

Itu dari sisi pembeli. Sementara dari sisi penjual/wirausahawan, mereka belum tahu bagaimana mengoptimalkan Internet untuk ‘menemukan’ konsumen. Apakah memiliki Facebook saja cukup? Atau harus punya Instagram? Pentingkah channel YouTube? Semuanya tentu dihubungkan dengan tujuan utama: angka penjualan yang signifikan.
Bagi kamu yang sehari-hari terbiasa menggunakan smartphone, hal ini tentu bukan masalah. Tapi tidak semua wirausahawan adalah orang-orang yang terbiasa dengan teknologi. Jangankan punya Snapchat, mungkin prinsip mereka adalah ‘yang penting handphone bisa digunakan untuk SMS dan telepon’.

Untunglah, berbagai institusi segera mencari solusi untuk menunjang UKM lokal. Baru-baru ini, Banyuwangi Mall di-launching untuk mewadahi produk dari Kabupaten Banyuwangi. Produknya pun bervariasi: dari mulai batik, kerajinan tangan, makanan, sampai paket tour & travel. Tentunya hal ini menawarkan berbagai kemudahan bagi UKM. Mereka dapat menemukan calon konsumen dengan lebih mudah, dan memfokuskan usaha mereka pada produksi dan distribusi – karena promosinya sudah dibantu oleh platform ini. Adanya platform seperti Banyuwangi Mall memungkinkan UKM untuk mendapatkan profit yang lebih stabil. Mereka juga bisa bertemu dengan pelanggan potensial yang bisa menjadi langganan atau menyebarkan word-of-mouth kepada orang-orang lain.

Banyuwangi Mall bukanlah satu-satunya e-commerce di Indonesia. Salah satu project yang sedang membutuhkan danamu di GandengTangan, Khunpai Indonesia, telah lebih dulu memasarkan produknya melalui berbagai marketplace. Katanya, produk facial kepompong-nya laris manis lho.

Sekarang, semuanya kembali ke kamu sebagai konsumen. Yuk, bangga pakai brand lokal, agar kesejahteraan Indonesia benar-benar bisa merata. Kalau kamu sudah biasa menggunakan produk lokal, silahkan tinggalkan komentar tentang e-commerce/marketplace asli Indonesia favoritmu, supaya semakin banyak produk lokal yang dikenal di mata dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *