Tentang Microfinance: Sejarah, Peluang, dan Tantangannya

Microfinance di Indonesia memiliki sejarah panjang yang menarik untuk disimak. Berikut ulasan lengkapnya.

Pesatnya perkembangan ekonomi dunia tidak lepas dari peran sentral microfinance. Keuangan mikro semacam ini memiliki fokus utama untuk mengentaskan kemiskinan, mengurangi angka pengangguran, serta memberdayakan rakyat melalui peningkatan kegiatan ekonomi.

Microfinance sendiri tersedia dalam berbagai layanan keuangan (simpan pinjam dan asuransi) dengan target khusus masyarakat berpenghasilan rendah dan pedagang kecil yang tidak cukup memenuhi syarat untuk mendapat pinjaman dari bank.

Karena target kredit mikro ini sangat terbatas, maka jumlah uang yang dipinjamkan juga sedikit, hanya beberapa juta rupiah dengan tenor pinjaman antara 6 bulan sampai 1 tahun. Saat ini, mayoritas klien kredit mikro adalah perempuan.

Sejarah Microfinance di Indonesia

Di Indonesia, microfinance memiliki catatan sejarah yang cukup panjang. Ketika Indonesia masih “diasuh” Belanda, sistem keuangan dikontrol secara ketat oleh pemerintah Hindia Belanda lewat bank-bank yang ada. Akhir abad ke-19, seorang patih asal Purwokerto bernama Raden Bei Wiriaatmadja mendirikan sebuah lembaga perkreditan rakyat bernama Hulp en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren (Bank Bantuan dan Tabungan Pegawai).

Tidak berselang lama, seorang Belanda bernama De Wolf van Wester Rode mengubah lembaga ini menjadi Bank Rakyat. Sekitar tahun 1898, petani-petani di Jawa mulai membangun Lumbung Desa yang merupakan cikal-bakal kegiatan simpan pinjam masyarakat desa. Namun, pada masa itu instrumen yang dipakai bukan uang, melainkan komoditas padi hasil panen.

Tahun 1904 ketika peredaran uang semakin masif di tengah masyarakat, didirikanlah Bank Desa atau Bank Kredit Desa (BKD). Dengan visi meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberian kredit, BKD pun akhirnya digabungkan dengan AVB (Algemene Volkscredietbank).

Setelah Indonesia merdeka, AVB akhirnya bertransformasi menjadi BRI (Bank Rakyat Indonesia). Meski merupakan bank komersial, BRI tetap berkomitmen menyediakan kredit mikro bagi rakyat/pengusaha kecil lewat pembukaan unit-unit di pedesaan. Sejak saat itu, pemerintah mulai gencar mendirikan bank dan lembaga keuangan sejenis di provinsi-provinsi lain di Indonesia.

Peluang Microfinance di Indonesia

Microfinance saat ini masih diyakini sebagai salah satu cara paling potensial untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Dalam skema perekonomian di Tanah Air, sekitar 90% unit usaha merupakan usaha mikro. Nah, guna mengembangkan kapasitas dan kemampuan bisnisnya, para pelaku usaha kecil ini perlu diberi suntikan modal—salah satunya lewat pemberian kredit usaha mikro.

Tambahan modal ini akan berimbas positif terhadap laju bisnis mereka. Roda perekonomian yang aktif akan menciptakan semacam multiplier effect yang secara tidak langsung berperan dalam memajukan pertumbuhan ekonomi nasional.

Melihat Tantangan Microfinance di Indonesia

Meski merupakan negara yang pertama kali mengomersialkan keuangan mikro di wilayah Asia, microfinance di Indonesia ternyata masih menghadapi berbagai tantangan. Kajian dan data BPS tahun 2000 menyebutkan hanya sebagian kecil pemilik UMKM yang bersedia memanfaatkan bantuan dana dari LKM (Lembaga Keuangan Mikro) untuk menutupi kekurangan modalnya.

Adapun tantangan-tantangan umum yang dihadapi dalam pengembangan keuangan mikro di Tanah Air adalah:

  • Minimnya penerapan prinsip perbankan mikro di antara lembaga-lembaga keuangan yang menyediakan layanan kredit mikro. Ini diakibatkan oleh tidak adanya program pelatihan (training atau bimbingan) yang intensif dan terstruktur.
  • Sebaran geografis dan wilayah Indonesia yang berpulau-pulau menyebabkan dukungan teknis yang diterima lembaga penyedia kredit mikro kurang maksimal.
  • Belum tersedianya biro kredit formal yang khusus bertugas memonitor risiko kredit atau kelebihan pemberian pinjaman di wilayah yang memiliki kondisi keuangan mikro yang cukup kompetitif.
  • Terbatasnya jasa layanan keuangan yang ditawarkan oleh LKM.
  • Kurangnya kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berperan aktif dalam mengembangkan LKM di Indonesia.

Poin-poin di atas tentu menjadi PR serius bagi pemerintah (maupun swasta) yang turut andil dalam memajukan perekonomian Indonesia.

Menjawab tantangan tersebut, Gandengtangan sebagai salah satu fintech P2P lending tepercaya berkomitmen untuk mengurangi kemiskinan dengan fokus pada pertumbuhan dan kemandirian usaha mikro melalui pemanfaatan teknologi dan impact-investing.

Di platform ini, kamu bisa berinvestasi dengan memberikan pembiayaan kepada usaha mikro yang unbankable yang memerlukan tambahan modal untuk kelangsungan usahanya. Selain prosedur yang sangat mudah, investasi di Gandengtangan juga bisa dilakukan dengan hanya Rp50.000.

Kamu pun tidak perlu khawatir soal risiko, sebab fintech ini memiliki mitra lapangan (GT-Trust) yang siaga mendampingi wirausaha mikro yang menjadi debitur melalui Gandengtangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *