Peternakan Kambing dari Desa Rowokangkung

Lumajang, sebuah kabupaten yang berjarak sekitar 148 kilometer dari ibu kota provinsi Jawa Timur, Surabaya. Disanalah terdapat sebuah desa bernama Desa Rowokangkung, yang saat ini membutuhkan bantuanmu melalui Gandengtangan.

Sebagian besar masyarakat di Desa Rowokangkung, berprofesi sebagai petani. Permasalahannya, pada musim hujan, sawah mereka sering terendam banjir besar sehingga dapat diprediksi mereka tidak akan mendapatkan penghasilan sama sekali. Disamping itu, karena minimnya keterampilan, banyak dari mereka yang bekerja sebagai kuli bangunan, bahkan harus mencari pekerjaan di luar kota atau luar pulau. Ketika pekerjaan mereka selesai, mereka pulang ke desa dan menunggu sampai mendapat pekerjaan selanjutnya. Jarang sekali warga desa yang berpendidikan tinggi, kebanyakan lulusan SD atau SMP; sehingga mereka mengandalkan pekerjaan yang tidak membutuhkan pengetahuan yang rumit. Dengan situasi seperti ini, warga Desa Rowokangkung terjebak dalam kemiskinan.

Wildan Maulana Yusuf adalah anak daerah Rowokangkung yang beruntung dapat menyelesaikan kuliahnya di S1 Teknik Elektro ITB. Ketika ia pulang ke desa, ia menyadari bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk dapat mengubah situasi ini, namun tidak bisa hanya dengan memberikan penyuluhan. Masyarakat harus dilibatkan dan diberdayakan agar mereka memiliki tanggung jawab atas peningkatan taraf hidup.

Berdasarkan diskusi, Wildan dan warga Desa Rowokangkung menemukan potensi peternakan kambing. Latar belakang pemilihan beternak kambing sebagai objek mata pencaharian disebabkan kemudahan prosedur peternakan kambing, kondisi kambing yang lebih mudah untuk dipelihara (tidak gampang sakit), dan harganya yang masih terjangkau.

Yang menarik dari peternakan kambing di Desa Rowokangkung adalah penerapan sistem komunitas. Awalnya, komunitas ini terdiri dari 8 (delapan) kelompok. Setiap kelompok mempunyai sekitar 5-10 ekor kambing. Kemudian, Wildan bekerjasama dengan Baznas Kota Lumajang agar dapat menambah modal, yang diwujudkan oleh Baznas dalam bentuk kambing sejumlah 40 (empat puluh) ekor. Secara periodik, modal awal bibit kambing ini akan dialihkan kepada anggota-anggota baru. Dengan demikian, peternakan kambing di Desa Rowokangkung semakin berkembang dan dapat menggandeng lebih banyak warga. Selain itu, dari bibit yang dipinjamkan oleh Baznas Lumajang seharga Rp. 700.000; mereka bisa mendapatkan satu ekor kambing pedaging yang jika dijual seharga Rp. 1.200.000-Rp. 1.500.000. Maka, keuntungan yang didapat – sesudah dikurangi oleh harga pakan, vitamin, dan pemeliharaan – sangat cukup untuk membiayai kehidupan pemiliknya.

Sistem komunitas ini, tidak hanya berfungsi sebagai motivasi bagi para anggotanya untuk melaksanakan kewajibannya dalam perawatan kambing; tapi juga sebagai wadah sharing pengetahuan masyarakat. Bisa jadi seorang warga memiliki pengetahuan yang berguna jika dibagikan kepada anggota lainnya. Thanks to this information-sharing system, kelompok peternakan kambing di Desa Rowokangkung sudah menggunakan metode penggemukan kambing dengan cara yang lebih moderen, yaitu fermentasi.

Setelah satu setengah tahun berjalan, peternakan ini sudah mulai membantu banyak warga Desa Rowokangkung, khususnya mereka yang pengangguran dan tidak memiliki modal usaha. Kesuksesan mereka menginspirasi warga lainnya untuk turut beternak. Namun, Wildan membutuhkan bantuan kamu untuk mengembangkan peternakan kambing di Desa Rowokangkung. Wildan memerlukan tambahan modal untuk kebutuhan operasional dan peningkatan produktivitas, agar manfaat dari peternakan kambing ini bisa membantu lebih banyak orang. Tertarik untuk membantu pengentasan kemiskinan di Desa Rowokangkung, Lumajang? Cek caranya di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *