Kenapa Perlu Dukung Wirausahawan Sosial di Era MEA? Ini Alasannya

image-for-mea

 

Perkembangan zaman yang amat cepat telah membuat dunia semakin jadi tanpa sekat. Perdagangan yang semula harus melewati saringan ketat di batas-batas antarnegara, kini bisa terjadi nyaris tanpa hambatan. Pun yang jadi dagangan nggak cuma barang, tetapi juga jasa dan keahlian. Buat negara-negara di ASEAN momentumnya jatuh di tahun 2015 ini, yaitu ketika kita bersepakat untuk memasuki pasar bebas di regional Asia Tenggara lewat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Kalau bicara peta persaingan di MEA, Indonesia memang unggul dari sisi ukuran pasar alias jumlah penduduk sebanyak 240 juta jiwa atau 40% dari total penduduk ASEAN. Dari segi ukuran produk domestik bruto lebih sangar lagi, yaitu hampir 50% dari total seluruh ASEAN. Hanya saja, ini bisa jadi bumerang bagi kita kalau cuma jadi konsumen alias sasaran empuk para produsen dari negara lain.

Maklum, dibanding negara-negara tetangga, persentase wirausahawan di Indonesia masih di bawah ideal. Karena itu, kalau nggak mau cuma jadi penonton dan pembeli, kita harus memanfaatkan peluang MEA ini dengan memperbanyak jumlah wirausahawan di Indonesia. Di bawah ini ada beberapa alasan yang bakal bikin kamu yakin kalau kita perlu dukung anak negeri sendiri di era MEA.

 

Akses Modal Terbatas

Seretnya pertumbuhan wirausahawan di Indonesia juga nggak lepas dari minimnya dukungan dari pihak-pihak terkait. Sebagai pengelola bisnis yang usahanya bergerak lewat perputaran uang, wirausahawan di Indonesia kalah bersaing dengan kompetitornya di negara tetangga dari segi akses ke permodalan. Terutama karena bunga bank di Indonesia untuk pinjaman produktif kelewat tinggi, sampai 25%. Sementara itu bank di Singapura hanya pasang bunga sebesar 6% dan Malaysia sebesar 13%.

 

SDM Nggak Kompetitif

Dibandingkan negara tetangga yang sudah punya program pembibitan wirausahawan sejak bangku sekolah, kurikulum pendidikan di Indonesia belum menyediakan itu. Sehingga sebagian besar wirausahawan di Indonesia mendapatkan ilmu yang mereka butuhkan secara otodidak dan nggak jarang bikin mereka ketinggalan beberapa langkah dibanding kompetitor di negara tetangga. Selain itu, wirausahawan kita juga belum banyak yang lihai memanfaatkan teknologi seperti internet maupun bahasa Inggris untuk memasarkan produknya ke pasar internasional.

 

Kalah Jumlah

Supaya jadi negara dengan fondasi ekonomi yang kuat, Indonesia butuh setidaknya 4,8 juta entrepreneur atau sekitar 2% dari total penduduk. Sayangnya, saat ini jumlah wirausahawan di negeri kita baru 1,56% saja. Angka ini menunjukkan kita jauh ketinggalan dari negara berkembang lain di Asia Tenggara. Bandingkan dengan Malaysia yang ditopang 5% pengusaha atau Singapura yang 7% warganya adalah wirausahawan.

 

***
Melihat beberapa alasan tadi, rasanya kita nggak bisa tinggal diam kalau mau wirausahawan Indonesia unggul di era MEA. Sementara pemerintah dan perbankan sedang mengerjakan PR besar untuk memperbaiki daya saing Indonesia di tingkat global, kita mampu berbuat aksi nyata untuk wirausahawan Indonesia sekarang juga.

Kita bisa berkontribusi menyediakan pinjaman modal berbunga rendah sehingga wirausahawan kita nggak perlu tergantung kepada sumber dari bank. Kita pun bisa mendukung wirausahawan yang berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hidup sesama, bukan cuma keuntungan pribadi, dari kegiatan usahanya. Bila kita ikut menciptakan iklim yang positif bagi wirausahawan ini, peluang tumbuhnya wirausahawan baru pun akan meningkat.

Semua aksi nyata tadi bisa kamu lakukan dengan memberikan pinjaman berbunga 0% lewat GandengTangan.org. Di platform pinjaman keroyokan alias crowdlending ini, kamu bisa mendukung para wirausahawan sosial yang nggak cuma peduli keuntungan pribadi, tetapi memecahkan masalah sesama dengan bisnisnya. Kamu bisa memberikan pinjaman mulai dari Rp 50 ribu yang akan dikembalikan dalam tempo maksimal 24 bulan.

Contohnya adalah wirausahawan sosial Asri Saraswati dari Agradaya yang bergerak bersama pengrajin emping di Sleman. Selama ini, Agradaya kewalahan memproduksi emping sesuai permintaan pasar karena kapasitas pengeringan yang terbatas. Padahal, emping produk Agradaya yang berkualitas tinggi ini diminati sampai ke pasar internasional. Berkat kucuran modal dari para pemberi pinjaman di GandengTangan.org, Agradaya kini sedang membuat solar dryer untuk meningkatkan produksi empingnya.

Nah, kamu jadi yakin kalau bisa ikut berkontribusi memajukan wirausahawan Indonesia di MEA? Berikan dukunganmu sekarang juga sehingga kita bisa jadi tuan rumah di pasar bebas ASEAN dengan klik link ini.

(shally)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *