Berhutang Jangan Berhutang…Jika Tak Ada Gunanya

Di antara kamu, adakah yang belum pernah berhutang sama sekali? Hampir semua orang pernah mengalami kebutuhan uang yang mendesak, sementara karena situasi tertentu, terpaksa harus berhutang. Apalagi kalau kamu anak kos atau mahasiswa rantau, kadang kamu harus melakukannya untuk menyambung hidup.

Selama kamu tahu bahwa kamu bisa membayar hutang tersebut, hutang tidak akan menjadi masalah. Sayangnya, kebanyakan orang berhutang dan menggunakannya untuk keperluan konsumtif. Tidak hanya itu, mereka tidak mengatur keuangan dengan baik sehingga mengalami kesulitan untuk membayar. Kalau orang-orang seperti ini kerap melakukan ‘hutang terselubung’ dengan memiliki kartu kredit, sebagian orang lain berpotensi merusak hubungan kekerabatan karena tak kunjung membayar hutang. Bisa jadi yang berhutang justru lebih galak ketika hutangnya ditagih.

Maka dari itu, salah satu prinsip dasar manajemen finansial adalah meminimalisasi hutang, atau maksimal 30% dari penghasilan bulanan. Sebisa mungkin, hutang digunakan untuk membiayai keperluan produktif. Jika dipertimbangkan dengan matang, hutang dapat memberikan profit dan menjaga kelanggengan usaha.

Berkenaan dengan hutang, tentu ada etiket dalam berhutang atau memberikan hutang. Dalam Islam, hukum tentang hutang sudah diatur di berbagai ayat Qur’an,

misalnya Surat Al-Baqarah (2) ayat 282: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai (hutang-piutang) untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya…..”

Adanya hitam di atas putih tidak hanya untuk melindungi pemberi pinjaman, tapi juga si peminjam atas apa yang menjadi kewajibannya. Kalaupun pemberi pinjaman kemudian melupakannya, peminjam harus tetap berusaha mengembalikannya. Barangkali peminjam berhutang kepada seseorang yang tampak lebih kaya dan makmur, tetapi pemberi pinjaman harus memiliki mindset bahwa apa yang telah ia terima merupakan sebuah bantuan. Maka, sudah sepatutnya ia mengembalikan pinjaman tersebut sebagai timbal balik atau ungkapan terima kasih atas bantuan tersebut. Apalagi, jika ternyata si pemberi pinjaman memiliki komitmen untuk meneruskan uang itu kepada orang-orang lain yang juga membutuhkan.

Prinsip inilah yang menjadi landasan dari sistem kerja GandengTangan. Setiap proposal diharuskan untuk mencatat jumlah pinjaman, beserta rincian rencana pengeluaran. Setelah terdanai, lenders dapat melihat laporan keuangan yang telah di-update oleh borrowers secara transparan dan akuntabel. Para borrowers juga ‘terikat’ dengan sistem pengembalian pinjaman yang telah disepakati – dan dijamin tidak akan menyulitkan mereka.

Proses ‘hutang-piutang’ di Gandengtangan juga sejalan dengan ayat Qur’an lainnya, yaitu Surat Al-Baqarah (2) ayat 245:

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”

Artinya, ketika kamu memberikan pinjaman di GandengTangan, kami akan membantumu untuk melipatgandakan kebaikan tersebut. GandengTangan memilih bentuk pinjaman – dan bukan donasi – agar kamu memiliki kesempatan untuk membantu lebih dari satu usaha. Ketika kamu menjadi borrowers, pinjaman justru akan menjadi motivasi untukmu meningkatkan produktivitas dan mengembalikan pinjaman. Setelah kamu mengembalikan pinjaman, lenders yang telah membantumu bisa mengalihkan uang tersebut kepada usaha-usaha lain yang memerlukan dukungan. Proposal yang telah dievaluasi oleh GandengTangan juga merupakan hasil karya dari wirausahawan sosial yang memahami bahwa bisnis tidak semata mengejar profit, tapi harus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Nah, sudah jelas kan, mengapa harus memberikan pinjaman lewat GandengTangan? InsyaAllah, hal ini akan dicatat sebagai amal jariyah yang akan kamu terima manisnya di akhirat kelak. Mumpung bulan Ramadhan, segera bantu proposal yang kamu sukai di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *