Ayu “Du’Anyam”: Ibu Dampingan Du’Anyam Punya Akses Lebih Banyak ke Uang Tunai

GSVC-SEA winner copy

 

“Maaf belum sempat balas, sedang banyak kegiatan lapangan di Flores,” tulis Ayu dalam pesan pendeknya untuk GandengTangan. Ayu yang punya nama lengkap Azalea Ayuningtyas mengirimkan pesan pendek itu setelah penulis GandengTangan memberi tahu ada surel baru yang perlu ia balas.

Wanita lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Harvard ini sejak 2014 memang banyak melakukan kegiatan di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bersama beberapa sahabatnya, Ayu melahirkan Du’Anyam.

Inisiatif Du’Anyam berupaya memecahkan masalah kematian ibu dan anak di NTT yang tergolong tinggi. Rentannya kesehatan ibu dan anak di NTT karena saat hamil ibu-ibu masih harus berladang sejauh 2-3 kilometer untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Melalui Du’Anyam, Ayu mengajak ibu-ibu di NTT mendapatkan penghasilan tambahan dengan menganyam lontar. Tambahan penghasilan itu berguna memenuhi kebutuhan nutrisi saat masa kehamilan atau untuk tumbuh kembangnya anak.

Dalam obrolan bersama penulis GandengTangan, Ayu berbagi semangat, visi, dan targetnya untuk kesehatan ibu dan anak di NTT. Baca wawancara selengkapnya di bawah ini.

 

Melihat pendidikanmu, kamu punya kesempatan berkarier di sektor privat, kenapa kamu lebih memilih mengembangkan Du’Anyam?
Saya sudah pernah merasakan berkarier di sektor privat. Saya belajar banyak tentang bisnis dan cara bekerja yang lebih terorganisir saat bekerja di sektor privat, tapi tidak merasa bahwa apa yang saya kerjakan sesuai dengan panggilan hati. Saat itu saya banyak berefleksi apakah yang saya kerjakan benar-benar berarti.
Mengembangkan Du’Anyam, membuat saya mempelajari hal-hal baru, mulai dari bagaimana berinteraksi dengan masyarakat, pemerintah, tenaga kesehatan, maupun dengan calon pembeli.

 

Mengapa kamu merasa isu kesehatan ibu di NTT penting?
Ibu adalah sumber utama generasi muda Indonesia berkualitas. United Nations (UN) dan masyarakat internasional meyakini bahwa untuk mengangkat masyarakat dari kemiskinan kita harus memutuskan siklus orang miskin menjadi tambah miskin karena masalah kesehatan. Masalah kesehatan ini berakar sejak masa kehamilan hingga 2 tahun pertama perkembangan bayi.

Tanpa adanya gizi dan kesehatan yang baik pada ibu hamil dan bayi baru lahir, kesehatan generasi muda tidak akan optimal.

Inilah yang membuat generasi muda sulit untuk keluar dari jerat kemiskinan.
Di NTT permasalahan kesehatan ibu dan anak sangat tinggi, salah satunya karena lemahnya ekonomi masyarakat. Maka kami mulai program meningkatkan kesehatan ibu dan anak melalui kegiatan ekonomi kreatif di NTT. Cita-cita besar kami bisa membantu ibu-ibu dan bayi-bayi di daerah lain yang masih membutuhkan.

 

Mengapa kamu yakin bahwa Du’Anyam adalah salah satu solusi untuk kesehatan ibu dan anak di NTT?
Peningkatan ekonomi yang berfokus pada ibu tak banyak di NTT. Padahal lemahnya ekonomi merupakan salah satu sebab permasalahan kesehatan, akibatnya sulit mengakses fasilitas kesehatan atau sulit membeli makanan bergizi.
Beberapa program peningkatan ekonomi bagi wanita yang ada terkadang hanya fokus pada pemberian keterampilan namun tidak langsung menyediakan pasar. Akibatnya program itu tidak berkelanjutan memberikan peningkatan pendapatan.
Beberapa program lain yang menyediakan pasar hanya fokus pada wanita yang sudah sangat terampil. Ibu-ibu lain yang belum terlalu mahir kurang dilibatkan.

Melalui Du’Anyam kami mengajak ibu yang sudah terampil untuk membuat produk unik bernilai seni tinggi.

Ibu-ibu yang belum terampil kami ajak membuat produk sederhana dulu. Mereka diberi kesempatan berlatih membuat produk yang lebih rumit jika mereka memang tertarik.

 

Apa perubahan yang terjadi pada ibu-ibu dampingan Du’Anyam sebelum dan sesudah adanya Du’Anyam?
Kini, ibu-ibu dampingan Du’Anyam memiliki akses lebih banyak ke uang tunai. Uang tersebut bisa membeli makanan yang lebih beragam dan bergizi seperti ikan.
Sebelum kehadiran Du’Anyam, ibu-ibu sulit mengakses uang tunai di luar masa panen, sehingga banyak keluarga petani di NTT hanya makan dari hasil kebun sendiri.

Menariknya, ibu-ibu Du’Anyam kini lebih memiliki suara dalam pengambilan keputusan karena mereka ikut serta menyumbangkan perekonomian ekonomi keluarga.

 

Dalam setahun ke depan, apa targetmu untuk Du’Anyam?
Kami ingin Du’Anyam bisa membantu lebih banyak Ibu-ibu di NTT, setidaknya mendampingi lima desa di Kabupaten Flores Timur.
Kami juga ingin Du’Anyam menjadi brand yang identik dengan produk anyaman lontar berkualitas. Sehingga kapan pun hotel, perusahaan, turis, maupun masyarakat Indonesia berpikir tentang anyaman lontar, mereka akan mengingat Du’Anyam.

 

Apa yang ingin kamu sampaikan pada calon pemberi pinjaman proyek Du’Anyam melalui GandengTangan?
Segala yang kita miliki sekarang, kita harus berterimakasih sebesar-besarnya untuk ibu kita. Ibu telah merawat kita sejak dalam kandungan sehingga bisa tumbuh dan berkembang mengoptimalkan potensi kita.

Dengan membantu Du’Anyam, kita bisa berbagi kelebihan yang kita miliki untuk membantu para ibu yang tinggal di situasi yang sangat sulit.

Ibu-ibu yang mungkin tidak punya pilihan dan daya untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya sejak masa kandungan.

 

 

Du’Anyam kini sedang membutuhkan bantuanmu untuk membeli sebuah motor yang akan digunakan untuk kegiatan operasional di lapangan. Kamu bisa ikut membantu memberikan pinjaman secara keroyokan melalui GandengTangan. Mulai berikan pinjaman dengan klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *