5 Crowdfunding dan Crowdlending di ASEAN Yang Kamu Perlu Tahu!

image-for-crowdlending-in-asean

 

Jelang Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) negara-negara di Asia Tenggara ternyata terus berbenah. Tak hanya negara, organisasi maupun individu juga terus berinovasi mendorong perubahan ekonomi. Salah satu yang terlihat dalam beberapa tahun belakangan ini adalah tumbuhnya inisiatif crowdfunding dan crowdlending di negara-negara ASEAN.

Apa saja contoh-contoh crowdfunding dan crowdlending di negara Asia Tenggara? Sabar dulu. Ada baiknya kita memahami sedikit mengenai kedua inisiatif ini.

Alfatih Timur alias Timi, pendiri KitaBisa – salah satu platform crowdfunding di Indonesia – menjelaskan mengenai crowdfunding. “Crowdfunding ada tiga jenis yakni yang berbasis donasi, berbasis pinjaman, dan equity based,” ujarnya.

Berbentuk donasi tentu saja si peminjam tidak perlu mengembalikan uang yang ia terima. Berbasis pinjaman (crowdlending) berarti si peminjam mengembalikan uang yang ia pinjam dengan mengangsur, sehingga terjadi interaksi dan membangun kemitraan antara peminjam dengan pemberi pinjaman. Sementara itu equity berarti si pemberi pinjaman juga mendapatkan modal atas keuntungan usaha yang nantinya diperoleh oleh si peminjam. Jadi jelas kan sekarang perbedaan ketiga jenis crowdfunding alias patungan online?

Oke mari kita lanjut dengan memberikan contoh-contoh yang sudah ada di Asia Tenggara.

 

Crowdo, Pemberi Pinjaman dari Negeri Jiran

crowdo
Negeri tetangga kita yakni Malaysia punya satu platform crowdfunding, namanya crowdo. Platform crowdfunding berbasis equity ini didirikan oleh Leo Shimada dan Nicola Castelnuovo. Yang membuat menarik crowdfunding di negeri tetangga kita itu adalah ternyata pemerintah Malaysia sudah memiliki peraturan investasi dalam crowdfunding. Seperti yang bisa kita baca dalam website crowdo, pemerintah Malaysia membatasi investasi individu sampai RM 50,000 dalam periode satu tahun. Sementara untuk angel investor bisa mencapai RM 500,000 dalam periode satu tahun.

 

Sinwattana, Paling Anyar di Thailand

sintawattana
Negeri Gajah Putih juga mulai berinovasi membangun platform crowdfunding. Pada Januari 2015 platform crowdfunding Sinwattana resmi meluncur di Thailand. Platform Sinwattana menampung seluruh jenis crowdfunding baik yang berbasis donasi, pinjaman, maupun equity. Platform ini juga tidak hanya membuka kesempatan warga Thailand, tapi juga setiap orang di belahan dunia, untuk bisa memulai proyek.

 

Artisteconnect, Platform Berkesenian Negeri Kepulauan

artisteconnect
Kesusahan mencari dana membuat buku? Tak bisa mendapat produser yang mau mendanai pembuatan film? Keresahan-keresahan semacam itulah yang membuat lahirnya Artisteconnect, crowdfunding asal Filipina ini. Crowdfunding ini memfokuskan diri pada project-project kreatif dan kesenian. Lewat platform ini maka mimpi berkesenian bisa jadi kenyataan.
Filipina juga punya platform crowdfunding dengan project-project yang lebih umum bernama The Spark Project. Platform ini didirikan oleh tujuh anak muda Filipina yang merespon perkembangan start-up di negeri kepulauan tersebut. Mereka merasa bahwa pendanaan start up penting untuk membuatnya berkelanjutan dan memberi manfaat lebih. Maka solusinya adalah membuat sebuah platform pendanaan untuk start up yang ada di Filipina. Dari cerita kemunculan The Spark Project kita jadi tahu bahwa maraknya start-up bukan hanya sedang terjadi di negeri kita, Filipina juga mengalaminya.

 

Cambofund, Akses Dana dari Kamboja

cambofund
Kamboja memang tergolong negara kecil di ASEAN, namun bukan berarti mereka tertinggal. Negeri ini juga punya platform crowdfunding bernama Cambofund. Platform ini didirikan oleh individu-individu yang sebelumnya memiliki pengalaman di bidang komunikasi. Seperti namanya, Cambofund hanya berfokus menggarap proyek-proyek yang mendorong perubahan di negara tersebut. Mereka berharap agar inisiatif-inisiatif yang muncul dapat memberi manfaat bagi komunitas-komunitas yang ada di Kamboja.

 

GandengTangan Untuk Indonesia!

gandengtangan-org
Perkembangan crowdfunding di Indonesia terbilang sangat pesat. Dalam ranah crowdfunding berbasis donasi kita memiliki Wujudkan, KitaBisa, atau AyoPeduli. Pada Maret tahun ini juga telah meluncur crowdfunding berbasis pinjaman atau biasa kita kenal dengan crowdlending. Nama crowdlending itu, ya kamu benar sekali, GandengTangan. Selama lima bulan GandengTangan berjalan sudah ada tiga proyek yang terdanai.

Munculnya platform crowdfunding maupun crowdlending di ASEAN adalah tanda bahwa setiap orang kini punya kemudahan dalam mengakses pendanaan. Beberapa platform crowdfunding pun crowdlending di ASEAN memang belum mencapai kesuksesan. Kunci platform yang sukses adalah kolaborasi dan partisipasi publik yang nyata.

Lantas bagaimana jika kita sebagai publik ingin terlibat mendorong inisiatif-inisiatif positif masyarakat melalui crowdfunding atau crowdlending? Caranya gampang, daftarkan dirimu pada platform-platform yang ada!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *